berita-online.id ,Internasional – Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, kembali memicu ketegangan di kawasan Yerusalem Timur usai melakukan kunjungan kontroversial ke kompleks Masjid Al-Aqsa dan memimpin ibadah Yahudi di lokasi tersebut. Aksi ini dinilai sebagai pelanggaran serius terhadap kesepakatan status quo yang telah dijaga selama beberapa dekade di salah satu situs paling sensitif di Timur Tengah.
Seperti dilansir BBC, Senin (4/8/2025), Ben-Gvir terlihat berada di Temple Mount — sebutan kompleks itu dalam tradisi Yahudi — didampingi aparat kepolisian Israel. Dalam foto dan video yang beredar, ia tampak memimpin doa di kawasan yang selama ini hanya terbuka untuk kunjungan umat Yahudi, namun tidak diperkenankan digunakan untuk kegiatan ibadah.
Pemerintah Israel sendiri telah mengeluarkan pernyataan resmi bahwa kebijakan status quo tetap berlaku, di mana hanya umat Muslim yang diperbolehkan beribadah di kompleks Al-Aqsa. Namun, kunjungan dan tindakan Ben-Gvir tetap menuai gelombang kecaman internasional.
Baca Juga : Serangan Israel Hantam Markas Bulan Sabit Merah Palestina, Satu Relawan Gugur dan Tiga Luka-Luka
Yordania, yang memiliki mandat historis sebagai pengelola situs suci tersebut, mengecam keras tindakan Ben-Gvir dan menyebutnya sebagai “provokasi yang tidak dapat diterima.” Sementara itu, Hamas menyebut kunjungan itu sebagai bentuk “agresi berkelanjutan terhadap rakyat Palestina,” dan Otoritas Palestina menilai langkah tersebut sebagai aksi yang “telah melampaui semua batas merah.”
Kompleks Masjid Al-Aqsa merupakan situs suci ketiga bagi umat Islam, diyakini sebagai tempat Nabi Muhammad melakukan perjalanan Isra’ dan Mi’raj. Bagi umat Yahudi, lokasi ini dipercaya sebagai tempat berdirinya dua Bait Suci yang dijelaskan dalam kitab suci mereka, menjadikannya situs paling suci dalam tradisi Yahudi.
Insiden ini menambah daftar panjang ketegangan di Yerusalem, yang kerap menjadi titik rawan benturan antara klaim religius, politik, dan historis berbagai pihak.
Al-Aqsa di Bawah Status Quo: Ketegangan Meningkat di Tengah Kunjungan Kontroversial Ben-Gvir
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5145770/original/018147600_1740733515-Al_Aqsa_11_februari.jpg)
Sejak dikuasai oleh Israel dari tangan Yordania pasca Perang Enam Hari 1967, kompleks Masjid Al-Aqsa berada di bawah pengaturan status quo yang menetapkan pembagian tanggung jawab unik: otoritas keagamaan tetap dipegang oleh lembaga Waqf di bawah pengawasan Yordania, sementara akses dan keamanan dikendalikan oleh pemerintah Israel.
Meski demikian, warga Palestina kerap menuding bahwa Israel secara bertahap menggerus kesepakatan tersebut. Tuduhan itu menguat seiring dengan semakin seringnya warga Yahudi terlihat berdoa di dalam kompleks, tanpa adanya intervensi dari otoritas keamanan.
Menurut lembaga Waqf, sebanyak 1.250 warga Yahudi tercatat memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa pada Minggu pagi (3/8). Salah satu dari mereka adalah Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, yang dikabarkan melakukan doa secara terbuka di lokasi—sebuah tindakan yang untuk pertama kalinya dilakukan dalam kapasitas resminya sebagai pejabat negara, menurut laporan Times of Israel.
Dalam keterangannya di lokasi, Ben-Gvir turut menyinggung video para sandera Israel yang baru-baru ini dibebaskan oleh Hamas. Ia menggambarkan kondisi para sandera sebagai “memprihatinkan”, dan menuduh Hamas memanfaatkan video tersebut untuk menekan opini publik Israel. Ia kembali menyerukan agar para sandera segera dikembalikan ke tanah air.






